Apr
08
Filed Under (Uncategorized) by mahjonkisme on 08-04-2009

Rasanya lebih mudah mengingat sesuatu jika memiliki sandaran, misalnya aja musik. Kaya lagunya Mulan yang satu ini bikin aku inget masa2 ngelesi dulu. Puih, susah tapi asyik. Asyik gajinya dan juga anaknya, hehe.

***

Kapan kalian merasa kangen rumah?

Aku bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di perantauan tanpa sekalipun kepikiran rumah. Tapi aku punya kebiasaan aneh. Aku bisa mendadak kangen rumah meskipun tak ada kejadian yang memicunya ASAL aku tidur siang hari.

Ya, entah kenapa begitu. Jika aku tertidur siang hari (ini bukan kebiasaan) dan terbangun agak sore aku merasa aneh. Aku merasa duniaku begitu sepi, kosong. Dan di saat demikian aku langsung merindukan rumah. Biasanya sebagai obat kangen aku akan mencari teman-temanku. Tanpa alasan jelas aku akan masuk kamar mereka dan meringkuk di sana. Aku hanya butuh melihat seseorang yang ku kenal didekatku dan aku merasa aman. Mungkin sebagian orang melampiaskan kangennya dengan telepon, tapi aku tidak. Aku tidak tahu harus menelepon siapa dan ngomong apa.

Just for example, kemarin sore aku ketiduran. Setelah mengantar mbak Lia aku balik ke kosan. Males mandi akhirnya aku sandaran aja di kasur, dan ketiduran. Jam setengah tujuh aku terbangun,.. dan seperti kebiasaan, aku merasa aneh, aku merasa sepi, kosong. Kosan memang sepi karena banyak yang pulang buat nyontreng tapi bukan itu yang membuatku sepi. Aku hanya…, sepi. Just sepi.

Karena tak ada kamar yang bisa kusambangi, setalah salat akhirnya aku hanya meringkuk. Masih dalam posisi sujud ku alirkan air mata ini. Bukan untuk menunjukkan sisi lemahku, aku hanya ingin yakin, aku sedang menangis. Apa benar…??!

Bookmark and Share
Mar
12
Filed Under (Catatan) by mahjonkisme on 12-03-2009

Aku suka petualangan. Minimal kalo gak bisa menjalaninya, aku suka mendengar kisah-kisahnya.

***

Pulang kemarin aku kemaleman. Karena harus menerima tamu lebih dulu, aku baru bisa pulang jam 3.00 sore. Sampai Kudus pukul 12.00 malem. Sudah gak ada angkutan tentunya.Akhirnya kuputuskan turun di Matahari yang lebih ramai. Deket situ ada pasar Bitingan yang biasanya jam segitu sudah banyak pedagang yang menurunkan dagangannya. Uh dingin, laper lagi.

Akupun cari warung deket pasar, makan-minum buat ganjel perut dan biar nyenyak tidurnya. Puas makan aku cari tempat tidur yang nyaman. Kalau deket pasar gak mungkin bisa. Selain ribut juga becek, maklum pasar tradisional. Akupun sedikit menjauh ke arah Matahari. Ah ada kursi kosong. Kuperkirakan itu milik pedagang asongan yang gak mungkin buka jam segini sehingga aku bisa tidur pulas nyampe ntar subuh. Tidurlah aku disitu, di gubug asongan emperan Matahari. Khuuuuk, khuuuuk………

***

Min Haitsu La Yahtasib, kata-kata ampuh yang menjadi doa pamungkas bagi santri kebanyakan. Biasanya digunakan pas udah kepepet, gak ada kiriman, utang menumpuk, jadilah doa itu sebagai andalan “Ya Allah berikanlah aku rezeki min haitsu la yahtasib (yang tak terkira)”. Maka tiba-tiba ada tetangga meninggal, diundang hajatan dan makan gratis satu minggu. BENAR-BENAR TAK TERKIRA. Kalau itu dikira-kira urusannya malah bisa panjang. Bisa kena tuduhan pembunuhan berencana, masuk penjara tapi ujung-ujungnya makan gratis juga. Ha3x…

Aku gak nyangka bisa ketemu kata-kata ampuh itu lagi. Kakak iparku yang menceritakannya. Katanya dia menggunakan kata-kata ampuh itu dan 3 hari kemudian dapat nomor HP kakakku, dan 3 bulan kemudian menikahinya. BENAR-BENAR MIN HAITSU LA YAHTASIB.

***

Bookmark and Share
Feb
27
Filed Under (Uncategorized) by mahjonkisme on 27-02-2009

Aku merasa begitu rapuh sekarang. Ingin ku menolongmu tapi ternyata aku lebih rapuh darimu.

>>>

(dicuplik dari RESONANSI - Republika Desember 2006/Ahmad Tohari)

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.

Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.

Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”
”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”
”Mau ambil berapa?” tanya saya.
”Enam ratus ribu, Pak.”
”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”
”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”
”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya.

Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Lebih Baik memberi Dari pada menerima

Bookmark and Share
Feb
27
Filed Under (Uncategorized) by mahjonkisme on 27-02-2009

Aku telah menyakiti banyak orang dan itu membuatku sakit. Ingin ku tebus semua tapi aku terlalu takut. GOD help me

>>>

Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yg cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu.

Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening : Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih
diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka-sangka, Dew hadir dalam kehidupanku.

Waktu itu adalah hari yg cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yg sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartemen yg kubelikan untuknya.

Dew berkata, “kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis.” Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, “Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis.” Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalau aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya.

Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, “kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor”. Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide
perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin.

Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka.Sejujurnya ia adalah seorang istri yg baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “seandainya kita bercerai, apa yg akan kau lakukan? ” Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh dari dirinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.

ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengannya. Dia
kelihatan sedikit curiga. Dia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Dew berkata padaku,”He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama.” Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, aku memegang tangannya. “Ada sesuatu yg harus kukatakan”.

Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalau aku terus berpikir. “Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.

Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku,tapi ia bertanya secara lembut,”kenapa?” “Aku serius.”Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku, “Kamu
bukan laki-laki!”.

Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi
oleh Dew.

Dengan perasaan yg amat bersalah, aku menuliskan surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan
sakit dalam hati. Wanita yg telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yg asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa menarik kembali apa yg telah kuucapkan.

Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.

Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali.
Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya : ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana : Anak kami akan segera menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.

Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,” He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita? Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah
kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku dilenganmu”, katanya, “jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan
ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu.” Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana
romantis.

Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yg ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,” ia mencemooh Kata- katanya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,”wah, papa membopong mama, mesra sekali”. Kata-katanya membuatku merasa sakit. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan dirinya dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,”mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan pada anak kita.” Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku, Kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi di bajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku
melihat bahwa ia tidak muda lagi. Beberapa kerut tampak di wajahnya.

Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “kebun diluar sedang dibongkar. Hati-hati kalau kamu lewat sana.” Hari keempat,ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku.

Bayangan Dew menjadi samar.

Pada hari kelima dan keenam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yg telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak, dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa
semakin erat.

Aku tidak memberitahu Dew tentang hal ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya, “kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang”

Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg cocok. Lalu ia melihat, “semua pakaianku kebesaran”. Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba aku menyadarinya, sebab ia semakin kurus, itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit.

Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. “Pa, sudah waktunya membopong mama keluar.” Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, “sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua.” Aku memeluknya dengan kuat dan berkata “antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”.

Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dew membuka pintu. Aku berkata padanya,” Maaf Dew, aku tidak ingin bercerai. Aku serius”.

Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. “Kamu tidak demam.” Kutepiskan tanganya dari dahiku. “Maaf Dew, aku cuma bisa bilang maaf padamu, aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan
menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu”.

Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor.

Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga. Ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjualnya bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum dan menulis : “Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua.”

Sumber: www.motivasi.web.id

Bookmark and Share
Feb
19
Filed Under (Catatan) by mahjonkisme on 19-02-2009

Beberapa hari ini aku melakukan banyak perjalanan, mulai Mojokerto, Jepara, Demak, Klaten, Jogja dan balik lagi ke Malang. Yang paling menyengsarakan tentu saja yang terakhir. Dari Jepara aku berangkat pukul 11.30 WIB dan sampai Malang pukul 05.30 WIB. Total 18 jam aku di perjalanan.

Gara-garanya, yang pertama di Tuban ada kunjungan Bapak Presiden SBY sehingga semua jalan ditutup sampai 3 jam lebih. Setelah jalan dibuka, supir bus yang aku tumpangi ngebut dan apesnya nyerempet sepeda motor sehingga harus berurusan dengan polisi. Sampai Isya’ urusannya belum selesai sehingga semua penumpang dioper ke bus berikutnya.

Sampai Arjosari aku kemaleman, kira-kira pukul 24.00 sehingga udah gak ada Len yang beroperasi. Gak ambil pusing, aku salat terus pilih Len yang kursinya empuk dan terlelaplah aku disana…..

***

Bicara soal perjalanan, ada satu hal yang aku pertanyakan. “Kenapa bus dengan tarif murah atau biasa disebut kelas ekonomi? Apa ada hubungannya? Ekonomi ditinjau dari segi mana yang berarti ‘murah’ ?”. Ah, terserahlah yang bikin istilah. Yang jelas aku cinta bus ekonomi.

Banyak enaknya lo naik bus ekonomi, banyak hiburan gratis. Musisi-musisi jalanan yang kadang lagunya vulgar, penuh intrik, kritik dan uang kricik (receh maksudnya…!). Ngomong soal musisi jalanan atau pengamen, kemarin aku lihat pengamin dengan IDCard semacam asosiasi pengamen. Wuih, fotonya di IDCard kueren. Pakai jas, dasi dan berbagai atribut layaknya orang kantoran. Tapi kayaknya belum banyak anggotanya. Dari sekian puluh pengamen hanya satu itu yang punya IDCard. Whatever lah, tapi sebenernya idenya bagus lo. Cuman kebanyakan pengamen dan aktor jalanan lainnya lebih terikat secara emosi dengan kelompoknya masing-masing. Kalau pakai asosiasi yang berbau-bau resmi gitu mungkin males mereka.

Kembali ke enaknya naik bus ekonomi, cobalah kawan kau lihat wajah mereka yang naik bus ekonomi. Perhatikan ekspresinya, kerutan di mukanya. Itulah wajah kebanyakan masyrakat kita saat ini.

Berada di tengah mereka seolah menjadikan aku benar-benar Indonesia. Indonesia yang saat ini sedang terpuruk, terombang-ambing dan didera cobaan beruntun. Oh Indonesiaku….

Tapi kawan, di saat aku merasa benar-benar Indonesia, benar-benar bagian dari mereka, aku ingin muntah. Bapak-bapak disamping, depan, belakang, semuanya merokok. Uh, aku gak betah. Udah bau keringat, campur rokok, belum lagi bisingnya orang di belakang yang telepon tak tahu aturan. Uh, benci, benci, aku benci bus ekonomi…..

Tapi, pulangnya ke Malang aku naik bus ekonomi lagi. Yah namanya juga cinta, mau bilang benci sebenci apapun, nanti juga balik lagi. Ya gak…???

Bookmark and Share
Feb
06
Filed Under (Catatan) by mahjonkisme on 06-02-2009

kenapa hawa dingin membuat kita doyan makan?

Just like now, habis dari pare aku kehujanan di Batu. DINGIN.

Pare, it’s my second life, the place i was reborn.

Masih seperti dulu, sama sekali tak berubah. Baduri Zone, Dian House, Novi House dan Mak Gunung tercinta.

Ten past twenti, aku berangkat ke Pare untuk buwoh ke anaknya bapak kosQ dulu.

Twelve, nyampe Pujon berhenti solat Jumat.

Twelve past thirty, meneruskan perjalanan.

Thirteen past thirty, nyampe Pare, hawanya langsung berubah. Aku ingin jalan kaki saja, menapaki semua kenanganku dulu. Masjid An-Nur, Tugu Garuda, warung Sahabat. Ooh, di warung inilah dulu aku sering mengantarkan teman-temanku yang pulang satu per satu. Di tempat inilah aku berpamitan dengannya. Di tempat inilah semua berawal, awal ku titikkan air mata setelah sekian lama.

Aku sempatkan mampir di toko pertigaan, beli amplop. Ternyata samar-samar ibunya masih kenal denganku. “Kuliah ato kursus mas?”, sapanya. Kuliah bu, ni mau ke Baduri, ke mbak Anis.

Ibu itu bukan orang yang istimewa, tapi karena dia orang Pare pertama yang menyapaku, rasanya ingin ku junjung dia setinggi-tingginya.

Baduri Zone, nama kosku dulu. Masih sama, pintu kamarku, stikernya, nakonya, bahkan mungkin kata-kata konyol yang kutuliskan di pintu almari dulu masih ada. Dari jendela tempat aku mengintip kos di depanku, terbesit keinginan konyol yang kutuliskan di pintu almari. Haha…

Mbak Anis, dapat jodoh orang Ponorogo. Agak kurus, berkacamata, tampangnya seperti seorang guru. Happy married mbak.

Pulangnya aku menyapa mas Irul di bengkelnya. Tak ku sangka tanggapannya begitu hangat, akhirnya mau tak mau aku mampir sebentar. Padahal dulu gak begitu kenal. Oh Pare, kenapa semua tentangmu begitu indah bagiku.

Fourtheen, i drop in Mr Malik house. He’s one of my favourite theacher. Aku masih ingat ceritanya tentang dua batu marmer beda takdir, nelayan yang berani ambil resiko and much more. Cerita-cerita yang mengubah pandanganku tentang hidup.

Mr. Malik lagi gak ada, tapi ada Farih temanku satu angkatan.

Fourtheen past thirty, go home and kehujanan. DINGIN.

Sixteen past twenty, nyampe Malang. Salat dan langsung kerja.

Hawa dingin membuatku doyan makan. Entah habis jajan berapa di warnet. Klo gini terus mana bisa ngumpul gajiku..?? Kapan kayanya…!!

Pare, i’ll be miss u…

All about you…

Bookmark and Share
Sep
06
Filed Under (Uncategorized) by mahjonkisme on 06-09-2008

Di awal zaman, Tuhan menciptakan seekor sapi.
Tuhan berkata kepada sang sapi
Hari ini kuciptakan kau Sebagai sapi
engkau harus pergi ke padang rumput.
Kau harus bekerja dibawah terik
matahari sepanjang hari.
Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun.
Sang Sapi keberatan
Kehidupanku akan sangat berat selama 50
tahun. Kiranya 20 tahun cukuplah
buatku. Kukembalikan kepadamu yang 30
tahun . Maka setujulah Tuhan.

Di hari kedua, Tuhan menciptakan monyet.
Hai monyet, hiburlah manusia. Aku
berikan kau umur 20 tahun!
Sang monyet menjawab “What? Menghibur
mereka dan membuat mereka tertawa?
10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10
tahun padamu” Maka setujulah Tuhan.

Di hari ketiga, Tuhan menciptakan
anjing.
Apa yang harus kau lakukan adalah
menjaga pintu rumah majikanmu.
Setiap orang mendekat kau harus
menggongongnya. Untuk itu kuberikan
hidupmu
selama 20 tahun Sang anjing
menolak : “Menjaga pintu sepanjang hari
selama
20 tahun ? No way.! Kukembalikan 10
tahun padamu”. Maka setujulah
Tuhan.

Di hari keempat, Tuhan menciptakan
manusia.
Sabda Tuhan: “Tugasmu adalah makan,
tidur, dan bersenang-senang.
Inilah kehidupan. Kau akan
menikmatinya. Akan kuberikan engkau umur
sepanjang 25 tahun! Sang manusia
keberatan, katanya “Menikmati kehidupan
selama 25 tahun? Itu terlalu pendek
Tuhan.

Let’s make a deal.
Karena sapi mengembalikan 30 tahun
usianya, lalu anjing mengembalikan 10
tahun, dan monyet mengembalikan 10
tahun usianya padamu, berikanlah
semuanya itu padaku. Semua itu akan
menambah masa hidupku menjadi 75
tahun.
Setuju ?” Maka setujulah Tuhan.

AKIBATNYA… ……… ……… ………

Pada 25 tahun pertama kehidupan sebagai
manusia dijalankan
kita makan,tidur dan bersenang-senang

30 tahun berikutnya menjalankan
kehidupan layaknya seekor sapi
kita harus bekerja keras sepanjang hari
untuk menopang keluarga kita

10 tahun kemudian kita menghibur dan
membuat cucu kita tertawa dengan
berperan sebagai monyet yang menghibur

Dan 10 tahun berikutnya kita tinggal
dirumah, duduk didepan pintu, dan
menggonggong kepada orang yang lewat
Uhuk, uhuk (batuk)… Eh, Ntong,
mo kemane lo..??

sumber: blognya micko ++> thank’s

Bookmark and Share
Sep
05
Filed Under (Uncategorized) by mahjonkisme on 05-09-2008

salam sayang semuanya..

rasanya baru kemarin kita puasa sekarang sudah puasa lagi, kenapa waktu begitu buru-buru berlalu, apa yang ia kejar..?

kawan, ini sekadar berbagi pengalaman saja, kemarin saya sempat jengkel sekali karena di compQ ada folder yang gak bisa ilang. udah dicoba dengan segala cara menghapusnya, tapi bandelnya gak ketulungan. dari cara manual pake klik kanan, lewat cmd maupun pake software macem-macem, nih folder tetep aja kerasan ngendon di situ. bukan masalah apa sebenarnya, cuma ya gak enak dilihat aja, ada folder kosong, gak bisa diakses dan gak bisa dihapus. jan gak uenak disawang..!

tapi percayalah kawan, setiap masalah ada solusinya (saya percaya sekali dengan dogma ini, saking percayanya kadang saya ceroboh melakukan sesuatu tanpa berpikir karena percaya kalaupun nanti ada masalah pasti bisa selesai==>that’s bad). beberapa hari yang lalu saya menemukan artikel tentang penghancuran file yang dilakukan oleh sebuah dinas rahasia. katanya nih, pake software dari iolo yang sakti mandraguna bernama “System Mechanic Profesional”.

dan percayalah kawan, software ini bener-bener ampuh sebagai tool penghancur. jika selama ini aku begitu percaya dengan tune up, rasanya sekarang pindah ke lain hati, hehe…

yang pengen coba, search aja di google. ins manjur…!!!

Bookmark and Share
Aug
16
Filed Under (Uncategorized) by mahjonkisme on 16-08-2008

Dulu pas waktu aku kecil, nisfu sya’ban dikenal dengan sebutan malam "beratan". Orang-orang ramai ke masjid atau musholla dan yang seru bagi anak-anak adalah di malam beratan ada tradisi untuk menyalakan berbagai lampion dalam berbagai bentuk. Ada yang berupa spiral (paling banyak), mobil-mobilan, hewan dll. Lampion tersebut diarak sebagai penerangan mulai dari rumah sampai masjid. Maklum listrik masih jarang-jarang.
Kalau diinget-inget, indahnya masa kita kecil dulu. penuh dengan tradisi yang membangun kebersamaan.
Tradisi yang berlaku, malam ini diramaikan dengan membaca yasin 3x dengan niatan agar panjang umur, banyak rejeki dan entah yang satu lagi apa niatnya aku agak lupa. Kenapa harus seperti itu?
Kami diajarkan bahwa pada malam ini adalah malam bergantinya catatan amal sehingga untuk memulai catatan yang baru yang kami minta adalah tiga hal pokok yang kebanyakan dibuthkan manusia : panjang umur, banyak rejeki dan kalo gak salah satu lagi adalah ilmu.
Setelahnya, orang-orang dianjurkan melakukan salat seratus rakaat dengan membaca surat al-ikhlas 100 kali juga untuk mendapat berbagi macam fadilah.

Terkait dengan berbagai tradisi ini, terdapat banyak sekali perbedaan pendapat apakah tradisi ini ada dasarnya yang shahih atau jangan-jangan merupakan bid’ah.
Entahlah, semakin banyak referensi yang saya baca saya malah tambah bingung. Satu yang mungkin menurut saya agak jelas adalah bahwa Rasulullah menganjurkan banyak puasa dan salat di bulan ini. Sedangkan terkait kepercayaan-kepercayaan lain tentang fadilah nisfu sya’ban, mungkin teman-teman bisa kasih saya penjelasan yang lebih.

Oia, malam nisfu sya’ban ini tergolong istemewa menurut saya karena berbarengan dengan gerhana rembulan. Istimewa di sini maksud saya lain dari biasanya bukan koq berarti memiliki keutamaan khusus atau bagaimana. Selain itu juga berbarengan dengan malam kemerdekaan Republik Indonesia ke 63. Keren kan?!

Whatever, yang namanya berbuat kebaikan harus terus ditingkatkan. Terlebih melihat keadaan negeri kita yang sudah cukup berumur tapi masih amburadul. Atas nama kemerdekaan mari kita tingkatkan kebaikan dalam semua bidang. MERDEKA…!!!

Bookmark and Share
Aug
15
Filed Under (Uncategorized) by mahjonkisme on 15-08-2008

excuse me everyone, how are you?
Welcome1
ki melok-melok blog-blogan. lek jare kata
pengantare mau ce’e iso publish photo-photo and sharing crito-crito tapi foto opo,crito opo?
wes pokoke dikawiti disik.
lek jare petuahe wong pinter
"mulailah dan temukan inspirasi. seringkali tindakan menghasilkan inspirasi tapi jarang inspirasi melahirkan sebuah tindakan"
seng ngomong ngono ki wong kono lho kulone omahku, mboh sopo jenenge lali tapi lek dirasakno ncene bener. wes talah, pokoke koyo seng tak omong wingi-wingi, bismillah…just go and make it happen!!! (mahjonkisme pasal 1)

Bookmark and Share